Perajin Patung Buddha

Posting Oleh : Sales Manager [January 8, 2008 - 4:13 pm]

Untuk membuat patung Buddha ukuran tinggi 50 cm sebanyak 8 buah dibutuhkan modal produksi Rp 150.000. Dari sekian banyak modal yang dikeluarkan, perajin hanya mendapatkan keuntungan Rp 50.000 atau 30 persen dari modal yang dibutuhkan.

Kalau dilihat dari persentase, keuntungan sebanyak itu memang sudah cukup besar, tetapi prosesnya untuk mendapatkan pembayaran agak lama, dibutuhkan waktu sampai dua bulan.

I Wayan Tiwan, salah seorang perajin asal Bangli yang memiliki tenaga kerja hanya 8 orang ini, Senin (7/1) kemarin mengakui, untuk mengerjakan kerajinan patung Buddha yang menggunakan bahan baku kayu jenis albesia dibutuhkan modal produksi Rp 150.000. Jumlah ini melibatkan tenaga kerja empat orang.

Masing-masing tenaga kerja sudah memiliki tugasnya tersendiri. Seperti sebagai tukang potong menggunakan alat sensor, tukang bakalan (membentuk), tukang rot (mengaluskan patung dengan pisau kecil) dan tukang membuat wajah/muka.

‘’Masing-masing bagian tenaga kerja mendapatkan upah yang berbeda. Mulai dari tukang potong untuk membuat kerajinan patung Buddha 8 buah mendapatkan ongkos Rp 5.000. Tukang bakalan Rp 8.000, tukang rot Rp 5.000 dan tukang membuat muka/wajah Rp 5.000.

Total semuanya ongkos tenaga kerja yang dibayarkan perajin untuk membuat 8 buah kerajinan patung Buddha adalah Rp 23.000 sampai Rp 25.000,’’ jelasnya sambil menerangkan, untuk mengerjakan patung sebanyak itu diperlukan 3 tenaga kerja.

Ditambah pengeluaran uang makan tiga orang tenaga kerja Rp 45.000, pengeluaran modal pembelian bahan baku kayu albesia Rp 80.000. Jadi total produksi 8 kerajinan patung Buddha Rp 150.000.

Sementara harga jual untuk satu buah patung Rp 25.000, jadi total jumlah penjualan 8 patung Rp 200.000. Jadi jumlah penjualan dikurangi poduksi masih mendapatkan sisa hasil usaha Rp 50.000 (30 persen dari modal produksi).

Tiwan menjelaskan, untuk mendapat keuntungan sebesar itu diperlukan waktu cukup lama. Artinya, dari modal yang dikeluarkan untuk mendapatkan pembayaran dari pelanggannya bisa mencapai dua bulan.

Misalnya, order masuk awal bulan, sedangkan untuk menyelesaikan order sebanyak pemesanan, diperlukan waktu selama dua bulan. Secara otomatis pembayaran dari pelanggan setelah menyetor barang. Artinya, pembayaran dari pelanggan dilakukan setelah barang selesai dan tidak ada rijek.

Sebenarnya untuk membuat kerajinan patung Buddha diperlukan modal cukup tinggi. Selain karena pembayarannya membutuhkan waktu cukup lama, belum lagi terkadang tidak sesuai perhitungan. Misalnya, diperlukan modal lebih awal untuk membeli kayu.

Sekarang ini kayu jenis albesia sudah langka. ‘’Diharuskan untuk melakukan stok yang cukup banyak, itu pun kalau dapat membeli kayu. Artinya, untuk melakukan jenis usaha ini harus memiliki modal cukup banyak,’’ akunya, sambil menyebut, terkadang ada juga pelanggan yang mau memberikan deposit, tetapi ada juga yang tidak.

Pembayarannya juga dilakukan setelah menyetor barang dengan kompensasi tunggakan pembayaran sampai barang yang disetor benar-benar tidak ada yang rijek. Ironisnya, setelah barang diterima pelanggan dengan baik dan dilakukan proses produksi finishing oleh pelanggan.

‘’Tetapi dalam proses finishing terjadi kesalahan, nah yang menanggung kerusakan barang seperti itu masih juga tanggungan dari perajin. Kalau tidak mau, uang tunggakan tersebut tidak dibayarkan